Pages

PESAN MORAL DALAM FILM BALUKARNA



Kasus HIV dan AIDS saat ini masih menjadi momok mematikan dalam kehidupan masyarakat, khususnya anak-anak muda. Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) biasanya dikenal sebagai sekelompok orang yang terpinggirkan dan merasa didiskriminasi. Tapi dalam  film Balukarna, justru ODHA adalah perekat persahabatan sekelompok remaja yang berbeda latar belakang. ODHA bukan orang yang lemah secara fisik maupun psikis.ODHA mampu menjadi pahlawan bagi teman-temannya yang membutuhkan pertolongan. Tujuan menonjolkan ODHA dengan sisi heroik seperti itu adalah untuk menggugah masyarakat dan ODHA di Indonesia untuk memegang prinsip tolong-menolong, terbuka, membela yang benar, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, dan sebagainya. Sehingga tidak ada lagi keluhan yang terdengar dari masyarakat bahwa masyarakat tidak mengenal ODHA di lingkungannya, dan ODHA tidak bisa berkontribusi dalam pembangunan bagi warga di sekitarnya. Sudah saatnya masyarakat mengenal siapa ODHA dan ODHA mulai membantu kegiatan yang bisa dikerjakan bersama masyarakat di sekitarnya.

Balukarna sendiri adalah sebuah film remaja yang mengajarkan bahwa kita harus lebih berhati-hati lagi di zaman milenial ini. Banyak sekali pelajaran yang harus diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Balukarna mengepas fakta bahwa remaja bukan sekadar angka-angka atau mantra di dalam wacana politis, bukan pula sekadar slogan dalam seruan-seruan kampanye internasional melainkan menempatkan remaja sebagai manusia biasa yang patut dihargai harkatnya. Balukarna hanyalah media pendidikan kemanusiaan, bukan mengistimewakan manusia yang bernama remaja.

“Balukarna adalah sebuah film remaja, HIV, Kekerasan. 30% HIV ada dikelompok anak usia 15-24 ada 2.000 anak, hubungan seksual pakai jarum suntik. Mengapa ini bisa terjadi? Karena kurangnya pemahaman hubungan seksual. Dari situ kita bahwa kalo bukan kita siapa lagi yang menjaga diri kita sendiri dan Indonesia. Siapa yang akan megang Indonesia? Kita! Jauhi virusnya bukan orangnya!” Begitulah sambutan dari Kepala Sekretariat KPA Provinsi Jawa Barat  pada saat nonton bareng BALUKARNA di CGV TRANSMART Cirebon, Rabu (8/9/2018).

Dalam film Balukarna, banyak adegan-adegan yang mengandung pesan moral yang ingin disampaikan oleh sang sutradara, May Ramadhan. Di antaranya adegan  pada saat Aldo, salah satu sahabat Kalina yang mengidap HIV+, diharuskan meminum obat dua kali sehari untuk menjaga kesahatannya, dalam kondisi tersebut Kalina dan sahabat-sahabat yang lainnya selalu mengingatkan Aldo dan memberinya semangat. Dari adegan tersebut, pesan moral yang dapat di petik adalah persahabatan tidak mengenal kata ‘kekurangan’, karena seorang sahabat akan berusaha mengubah kata ‘kekurangan’ dari diri sahabatnya menjadi ‘kelebihan’ melalui dukungan semangat dan rasa empati yang tak memiliki ujung.

Adegan berikutnya ketika Kalina mengalami depresi karena ia diancam oleh seseorang yang tak ia kenal. Orang tersebut mengancam jika Kalina tidak mengirimi foto-foto seksinya, ia akan menyebarluaskan foto Kalina bersama mantannya, Dimas, di media sosial. Dengan lingkungan sekolah yang sangat ketat dan keluarga baik-baik. Kalina takut jika tidak menuruti si pengancam, maka ia akan dikeluarkan dari sekolah dan pementasan teaternya dibatalkan. Namun di balik masalah yang sedang ia hadapi pada saat itu, sahabat-sahabatnya selalu ada dan membantunya hingga mencari tahu siapa orang yang ada di balik masalah ini. Adegan tersebut mengandung pesan moral; jika sahabat kita sedang terjerat masalah, kita sebagai sahabatnya harus membantu semampu kita agar masalahnya cepat selesai dan bukan malah meninggalkan dan membiarkannya sendirian.

Pada adegan Aldo yang harus menjaga kesehatan karena ia mengidap HIV+, ia masih punya semangat besar untuk mengembangkan hobinya dengan berkarya dalam teater. Adegan tersebut mengandung pesan moral; di balik kekurangan yang kita miliki, pasti ada kelebihan yang tersimpan. Jangan pernah menyerah di dalam kondisi apapun dan teruslah berkarya selagi kita mampu.

Dari semua adegan yang memiliki pesan moral itu kita belajar bahwa jika kita memiliki teman yang mengalami hal buruk, misalnya mengidap penyakit mematikan, maka itu bukan alasan untuk kita menjahui teman tersebut tetapi kita harus memberi semangat dan dorongan agar dia tidak merasa menanggung beban sendirian.

Cirebon, Agustus 2018
                                                                                                                                    Efzet Mulyana

#CatatanEfzet

 IKHLAS   Satu kata yang ingin aku sisipkan di tahun ini, mengenai "Ikhlas".  Aku kira, sabar merupakan kasta tertinggi. Sudah bis...