Pages

HATE BEING LOVE

Part 1 

"ketika tulus dibalas dengan kepergian"


Untuk yang kesekian kalinya, aku merasakan getaran-getaran yang tak biasa yang mungkin dinamakan dengan “jatuh cinta”. Kala itu, aku sedang tidak memikirkan hal itu. Namun, takdir berkata lain. Aku bertemu dengan seseorang yang tidak aku sukai. Dimulai dari penampilan hingga sikap dan perlakuannya.
Oh, iya.. sebelum berlanjut, aku ingin memperkenalkan diri. Fiyu, anak yang lugu di Sekolah. Namun setelah mengikuti bimbingan belajar bukan semakin pintar, malah memikirkan percintaan. Huftt..
Selama mengikuti bimbingan belajar, aku lebih sering memainkan gadget dibanding mendengarkan penjelasan tentor. Hingga semester dua di bimbel aku bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan. Anto, anak kelas sebelah yang katanya pintar IPS. Bukan hanya beda kelas, aku dan Anto beda sekolah. Jadi hanya bertemu di bimbel, itu pun kalau ada jadwal yang sama.
Aku dan Anto memang bertolak belakang. Aku sangat tidak suka pelajaran IPS atau Sejarah, sedangkan dia sangat tergila-gila. Sampai-sampai aku pernah terpaksa harus bertanya materi, karena tentorku. Sebenarnya malas, tapi ya sudah. Kemampuan dia di pelajaran IPS memang sudah diketahui oleh tentor IPS di bimbelku, jadi wajar saja kalo aku harus bertanya sama dia.
Komunikasi pertama aku dan Anto dimulai dari aku menanyakan materi lewat sosial media. Keren! Jawabannya bisa langsung masuk otak gitu. padahal aku itu orang yang susah mencerna kalau yang sudah berhubungan dengan pelarjaran IPS atau Sejarah. Tapi aku tidak langsung luluh sama dia dong. Tetap saja aku masih tidak menyukainya. Walaupun dia selalu memberi semangat untuk aku mempelajari Sejarah ini. Semakin sering komunikasi, semakin dekat saja. Rasa nyaman pun dimulai!
Perlombaan antar sekolah tingkat SMP berlangsung di sekolahku. Nggak tau kenapa hari itu aku berharap dia datang. Dan ternyata, dia datang. Karena dia salah satu siswa berprestasi di sekolahnya.  
“Hay”. Sapaan manis darinya
Ada yang berbeda, jantung ku berdebar kencang!
 “Apa yang sedang aku rasakan? Jatuh cinta?”. Pertanyaan-pertanyaan yang banyak aku tanyakan pada diriku sendiri.
Selama acara berlangsung, kita tak bersama. Hanya saling bertatap jauh. Kenapa? Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya melihat wajah gugup dari Anto.
“Apa dia….?”. ucap ku
Ah, entahlah. Mungkin karna kita baru bertemu lagi setelah sering menanyakan materi lewat sosial media. Sudahlah, lupakan saja.
Kebencian aku pada Anto sedikit demi sedikit mulai berkurang. Ternyata bukan hanya pintar IPS, dia pintar mengambil hati perempuan juga. Hmm..
Ujian Nasional sudah di depan mata. Siap tidak siap, harus siap untuk menghadapinya. Aku dan Anto saling mensupport. Iya, kami sekarang sudah baikan. Hehe.. terutama aku sih, kalau Anto tidak seperti aku yang awalnya tidak suka dengannya.
Karena mungkin kebanyakan memikirkan hal percintaan dan sudah kecanduan handphone. Nilai ujianku bisa dibilang sangat rendah, malahan lebih besar dari nilai ujian SD. Pasrah! Hanya itu yang pada saat itu bisa aku lakukan. Aku sudah mengecewakan orang tuaku sendiri. Aku hanya bisa diam dan ikut keputusan dari mereka saja. Memang aku ingin merantau, tapi pilihan kota rantauku dan orang tua berbeda. Aku tidak ingin mengecewakannya lagi, jadi aku mengikuti saja.
Disela-sela perdebatanku dengan orang tuaku. Keesokan harinya aku bertemu dengan Anto. Mungkin ini pertemuan terakhir aku dengan Anto, sebelum aku pergi merantau.
“Fiyu.. kamu lanjut sekolah di sini kan?”. Tanya Anto
“Aku tetap merantau to”. Tatapku
“Serius? Kenapa?” Tanya Anto lirih
 “Ini memang sudah keinginanku dan orang tuaku pun menginginkan itu”. Aku meyakinkannya.
“Hm.. Ya sudah. Baik-baik ya di sana. Jangan lupain aku loh”. Senyum palsu Anto dan rasa kecewa terpancar dari wajahnya yang tak bisa ditutupi.
Beberapa minggu selama di kota rantau, aku masih berhubungan baik dengan Anto. Namun, setelah dia ulang tahun. Tiba-tiba dia hilang, tidak ada kabar. Aku sangat kehilangan sekali. Biasanya ada yang selalu membuat aku tertawa atas leluconnya. Hingga hari ulang tahunku tiba pun, tak ada ucapan atau hal spesial darinya.
Aku sempat menanyakan anto pada Ahmad, teman baik Anto. Ahmad pun sama sekali tidak mengetahui keberadaannya sekarang. Seperti hilang di telan bumi! Semenjak itu, Ahmad menggantikan posisi Anto. Tapi tetap saja aku masih mengingat Anto. Kedekatan aku dengan Ahmad tidak lama. Mungkin hanya sebagai pelampiasan dari Anto.
Jauh dengan Ahmad, membuat aku teringat kembali dengan Anto. Aku sering merenung sendiri di kelas. Padahal seharusnya aku senang dengan kota baru, sekolah baru, bahkan  orang-orang baru. Afi, Saroh, dan Ina. Mereka adalah teman-teman baruku di sini. Tiga orang, pasti ada tiga karakter yang berbeda, tapi mereka sama-sama selalu membuat aku tertawa atas kesedihanku. Aku ceritakan apa yang terjadi pada mereka.
“Fiyu”. Panggil Afi
“Udahlah Fiyu jangan dipikirin terus”. Ucap saroh menghampiriku
 “Masih banyak kok cowok di luar sana yang lebih baik”. Candaan Ina membuat aku tersenyum
Hari-hariku terasa lebih baik semenjak kehadiran mereka. Benar kata Ina, masih banyak laki-laki di luar sana.
 


No comments:

Post a Comment

#CatatanEfzet

 IKHLAS   Satu kata yang ingin aku sisipkan di tahun ini, mengenai "Ikhlas".  Aku kira, sabar merupakan kasta tertinggi. Sudah bis...